Strict Standards: Non-static method FeedWordPress::needs_upgrade() should not be called statically in /home/hsufehmi/parenting.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 113

Strict Standards: Non-static method FeedWordPress::stale() should not be called statically in /home/hsufehmi/parenting.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 179

Strict Standards: Non-static method FeedWordPress::update_requested() should not be called statically in /home/hsufehmi/parenting.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 184
Parenting @ Sufehmi.com

A Geek (Parent)’s Love

February 19th, 2008

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/parenting.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

As a computer geek, I love my kids a bit differently (is it an understatement ?) than others.
I love them very much, but I’m also able to discipline them fairly when needed. My kids are all able to use computer since they’re babies :) All are able to use Linux daily :D
They love books, as I do. They don’t watch TV (I forbid one in my house), but they browse the internet under our supervision. And so on.

But what make me in awe everyday is because I happen to understand computers : I know how stupid it is. So I’m constantly amazed when my kids are able to accomplish something new. Because it made me remember that, despite the latest advances in the artificial-intelligence field, they are nowhere close to the intelligence level of my baby : self-aware & sentient. And capability to learn pretty much **anything**.
Try to top that :)

Anyway, so it was with great feeling I read this comment again and again. It moved me so much.
It was exactly my experience, but written so much more eloquently that I could ever hoped for.

I hope I’ll be successful in my duty : to raise all of my kids to be good adults. To all other geek parent’s out there, here’s one for you :

I won’t lie to you — being a parent is no laughing matter. It is a ton of work. It can be amazingly stressful and expensive. I’ve been through periods that I look back on now and wonder how the hell I managed to pull through without going completely insane.
But if you ask me, the rewards outweigh the difficulties ten to one.

When your child first looks up at your face and you see actual recognition in her eyes… when you see all the blocks fall into place as she figures out how to do something for the first time… look, I know it sounds really sappy and smarmy, but seriously (srsly) it is absolutely indescribable.
This thing started out as a bit of genetic code from two people, and now it is actually self-aware and sentient. How cool is that? What geek can’t be astonished at these emergent properties, derived from a program more complicated than you can possibly imagine — a program that has spontaneously evolved over time?

And you get to see her mental map evolve. You watch branches get added to her decision tree. You observe as she learns how to acquire information, process it, and decide how to act upon it. And all the while, you mold her view of the world based on your interactions with her. I don’t know about you, but I find that not only fascinating, but incredibly rewarding.

Before my daughter was born, I was terrified too, and (if) somebody had said these things to me, I would’ve said, “Yeah, okay, I’m sure it’s great and all, but I’m sure you’re exaggerating somewhat.” That’s because there is something that happens to you when it’s your kid. There’s some very ancient, very basic code that gets turned on in your brain that says “this life is your responsibility, and you must do everything you can to ensure its safety, survival, and growth“. I can’t explain it because I honestly believe it’s something buried deep beneath the conscious mind.

Melahirkan & Menyusui : dapatkan yang terbaik bagi Anda & bayi Anda

February 5th, 2008

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/parenting.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

Saya menemukan posting Sueng mengenai masalah di rumah sakit kita dalam hal layanan persalinan / melahirkan. Juga kasus dengan anak pertama Firman Firdaus. Cukup membuat gregetan membacanya.
Bagaimana bisa sampai ada dokter yang rela membahayakan pasien-pasiennya, yang sudah mempercayakan nyawanya kepada mereka ? Apa lulusan dokter sekarang tidak disumpah ?

Kembali ke permasalahan; bagi para ibu yang akan melahirkan, saya pribadi sangat merekomendasikan rumah sakit Budi Kemuliaan. Rumah sakit ini bersifat sosial dan melayani masyarakat, karena bentuk institusinya yang berupa perkumpulan — bukan perusahaan yang 100% bertujuan komersial.
Mungkin juga ada rumah sakit bersalin lainnya yang baik, namun saya pribadi baru tahu ini saja.

Saya & istri sangat gembira karena kami mendapatkan semua yang terbaik disana. Secara fisik, mungkin rumah sakit tersebut bukan yang paling bagus. Namun dari sisi layanan, kami belum menemukan rumah sakit lain yang bisa mengalahkannya.

Misal, soal ASI — mereka sangat mendukung istri saya untuk menyusui bayinya kapan saja. Tidak ada usaha untuk mempromosikan apapun, susu formula misalnya.

Membelok sedikit - dari blog Sueng, saya terharu menemukan link ke proses bersalin Tiara Lestari. Disitu dia mengajak kita semua untuk mempromosikan ASI dari dini, dan turut membantu menyelamatkan banyak nyawa yang tidak berdosa.

Saya juga jadi membaca proses hijrahnya. It’s among the most amazing story I’ve ever read. Pasti sepanjang proses tersebut ada banyak sekali cobaan yang dialaminya. She endured it all though, and became a much better person now. Dan manfaatnya bahkan bisa kita nikmati juga, seperti pada postingnya soal ASI tersebut.
One more enlightened voice has showed up in Indonesian blogosphere. Semoga berkah, dan anaknya kelak bisa menjadi teladan yang baik bagi masyarakat kita, amin !

Kembali ke RS Budi Kemuliaan — Mereka juga mendorong proses lahir yang alami. Beberapa rumah sakit mendorong Anda untuk melahirkan dengan operasi caesar — profit mereka lebih besar, namun Anda yang akan sengsara karenanya (recovery pasca persalinan caesar lebih lama & menyakitkan daripada persalinan normal)
Dan berbagai contoh lainnya.

Anyway, di RS Budi Kemuliaan ini mungkin juga tidak semua dokternya berkualitas yang sama bagusnya (seperti yang telah dialami oleh Firman).
Saya bisa merekomendasikan satu orang dokter disana yang bisa dipercaya dengan nyawa Anda & bayi Anda, tapi saya tidak tahu apakah ybs berkenan untuk disebutkan namanya. Jika Anda tertarik, kontak saya via japri, maka nanti saya akan kabarkan kepada Anda.

Apakah ada rumah sakit & dokter yang bisa Anda rekomendasikan untuk topik ini ? Please share them with us. Terimakasih.

Homeschooling dikecam oleh Daoed Joesoef

June 10th, 2007

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/parenting.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

Saya agak kaget ketika membaca Kompas edisi 9 Juni 2007, membaca kolom opini yang ditulis oleh Daoed Joesoef, dimana isinya sangat menyerang homeschooling dengan berbagai FUD / half-truths / dll. Sekalinya baca Kompas, langsung ketemu artikel begini. Versi onlinenya bisa dibaca disini.

Beberapa kutipan :

Bila pendidikan privat jenis ini memarak dan menjadi pengganti (alternatif) pendidikan sekolah formal, dalam jangka panjang ia akan berakibat fatal bagi pertumbuhan anak Indonesia menjadi manusia yang bermasyarakat (homo socialis).

Jenis sekolah rumah seperti inilah yang sebaiknya tidak dibiasakan karena bisa merusak pertumbuhan anak menjadi manusia yang bermasyarakat.

Daoed Joesoef Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Pembangunan III, 1978-1983

Ada banyak paparan yang menjelaskan berbagai pendapat simplistis dari Daoed Joesoef di atas dari milis sekolahrumah. Beberapa di antaranya saya lampirkan di bawah ini :

Seburuk Itukah Sekolahrumah?

Tulisan Prof. Dr. Daoed Joesoef di harian Kompas (Sabtu, 9/6/2007) mengenai fenomena sekolahrumah (homeschooling) layak untuk diapresiasi sekaligus dikritisi. Sebab, banyak paparan yang disampaikan dalam tulisan itu yang tak hanya bersifat simplifikasi, tetapi juga menempatkan model pendidikan sekolahrumah tak selayaknya. Seolah, para praktisi pendidikan sekolahrumah bersifat asosial dan praktek belajar yang dilakukan sehari-hari dalam sekolahrumah melawan norma-norma sosial yang ada di masyarakat. Labelisasi asosial pada anak-anak sekolahrumah adalah sebuah stigmatisasi yang sangat tidak layak diterapkan.

Substansi Pendidikan Sekolahrumah

Membaca tulisan Prof. Dr. Daoed Joesoef mengenai sekolahrumah, dikesankan bahwa praktek belajar sekolahrumah hanyalah belajar di rumah, oleh orangtua saja, dan anak tidak melakukan pergaulan sebagaimana anak-anak pada umumnya. Narasi yang disampaikan itu sangat asing bagi praktisi sekolahrumah dan sangat jauh berbeda dengan kenyataan praktek sekolahrumah yang dijalani sehari-hari oleh para praktisi sekolahrumah.

Berbeda dengan sekolah formal yang ditandai dengan model pendidikan massal dan seragam, model pendidikan sekolahrumah bercirikan pendidikan terkustomisasi. Praktisi sekolahrumah berusaha mengembangkan dan mendorong potensi individual anak yang selama ini tak dimungkinkan dalam model sekolah formal pada umumnya. Dalam keseharian proses belajar, praktisi sekolahrumah menggunakan beragam sarana, baik yang ada di keluarga maupun sarana publik dalam proses pembelajarannya.

Dengan mengambil slogan “belajar di mana saja, kapan saja, dan bersama siapa saja”, para praktisi sekolahrumah justru sedang berusaha memasuki esensi-esensi proses belajar. Belajar tak harus menempat di sebuah ruang tertentu (bangunan sekolah), waktu tertentu (jam sekolah), dan oleh sosok tertentu (guru). Proses belajar menggunakan kehidupan nyata sehari-hari merupakan contoh praktek belajar sekolahrumah yang menggunakan pendekatan unschooling.

Demikianlah, model sekolahrumah memang menolak monopoli sekolah sebagai satu-satunya institusi yang berhak menyelenggarakan pendidikan. Sebab, makna pendidikan sebagaimana yang juga diamanatkan dalam UU No. 20/2003 jauh lebih luas daripada sekolah. Sekolah hanyalah salah satu moda untuk menyelenggarakan pendidikan. Secara khusus, sekolahrumah atau pendidikan berbasis keluarga dijamin eksistensinya dalam pasal 27 ayat 1.

Model Sosialisasi

Kritik terhadap sosialisasi yang diselenggarakan pada sekolahrumah bukanlah sebuah hal yang baru. Di Amerika Serikat yang memiliki tradisi sekolahrumah lebih matang (sekitar 3 juta siswa dengan pertumbuhan sekitar 15% per tahun) pun, kekhawatiran terhadap sosialisasi anak-anak sekolahrumah belum dapat ditepis seluruhnya. Kekhawatiran itu umumnya muncul dari para profesional yang bekerja di lingkungan sekolah formal. Persepsi itu sangat kuat melekat pada masyarakat umum yang melihat proses sekolahrumah dari kejauhan.

Berbeda dari persepsi umum mengenai adanya masalah sosialiasi anak-anak sekolahrumah, berbagai penelitian yang dilakukan justru menunjukkan sebaliknya. Anak-anak sekolahrumah memiliki beragam kegiatan sosialisasi teman sebaya maupun keterlibatan di masyarakat yang ada di sekitarnya. Menurut penelitian, keterlibatan sosial anak-anak sekolahrumah lebih baik dibandingkan dengan teman-teman mereka yang belajar di sekolah umum. Diantara penelitian itu
dilakukan oleh Dr. Brian Ray, presiden dari the National Home Education Research Institute (NHERI) terhadap 5,402 siswa sekolahrumah di Amerika Serikat.

Model sosialisasi di dalam pendidikan sekolahrumah memang berbeda dengan model sosialisasi sekolah yang mengasumsikan kebutuhan pengelompokan teman seumur- sebuah asumsi yang dikritik Ivan Illich sejak tahun 1970-an. Dalam model sosialisasi sekolahrumah, anak lebih banyak terekspos dengan model sosialisasi lintas-umur, baik saat dia belajar di rumah, komunitas, masyarakat, organisasi, tempat magang, maupun tempat-tempat belajar lain yang ada di masyarakat. Ekspose dengan sosialisasi lintas-umur itu bagi para praktisi homeschooling justru
dinilai sebagai kekuatan karena merupakan cermin dari realitas masyarakat yang sesungguhnya.

Dengan ekspose yang luas pada pergaulan lintas-umur sejak dini, anak-anak sekolahrumah menjadi terbiasa dan matang dalam pergaulan. Anak-anak sekolahrumah tidak perlu mengalami proses adaptasi saat memasuki dunia kerja, sebagaimana yang dialami anak-anak sekolah yang terbiasa dengan sosialisasi teman sebaya. Pada anak sekolahrumah, inisiasi nilai-nilai kemasyarakatan terjadi selama proses belajar lintas-umur yang terjadi sepanjang hari, baik di keluarga, komunitas, masyarakat, dan dunia nyata tempat belajarnya.

Untuk sosialisasi teman sebaya yang juga dibutuhkan dalam perkembangan psikologis, anak-anak sekolahrumah biasa melakukannya melalui kegiatan di komunitas, field trip, tutorial, klub, ataupun kursus-kursus yang diikutinya.

Perbaikan Mutu Pendidikan

Pertumbuhan sekolahrumah justru sebenarnya menunjukkan sebuah pertanda baik di masyarakat. Ada beberapa alasan untuk mendukung hal itu:

Keterlibatan aktif orangtua di dalam pendidikan adalah sebuah hal yang sangat positif. Keterlibatan itu mengimplikasikan tercurahnya sumberdaya keluarga secara maksimal untuk pendidikan anak, bukan hanya secara material, tetapi juga secara psikologis yang sangat dibutuhkan untuk perkembangan anak. Kecenderungan ini lebih baik dibandingkan ketidakpedulian orangtua pada saat ini yang menggantungkan masa depan pendidikan anak pada para guru dan sistem sekolah. Kesediaan keluarga untuk terlibat dan bertanggung jawab dalam proses pendidikan adalah modal besar untuk perbaikan dunia pendidikan.

Sekolahrumah mendorong pendidikan untuk masuk pada esensi dan substansi pembelajaran. Sekat-sekat tempat, waktu, dan sumber belajar dapat dicairkan. Infrastruktur yang diperlukan dalam pendidikan model sekolahrumah pun menjadi lebih sederhana dan tidak semahal infrastruktur yang diperlukan dalam pengembangan sekolah formal yang ada pada saat ini.

Sekolahrumah mendorong fleksibilitas pembiayaan pendidikan yang saat ini dirasakan semakin mahal oleh masyarakat dan terindikasi komersialisasi. Selain membuang aksesori-aksesori pendidikan yang semakin membebani masyarakat, praktisi sekolahrumah terbiasa menggunakan kreativitasnya untuk mendapatkan berbagai bahan dan metode belajar yang sesuai dengan keadaan keuangannya tanpa harus menurunkan standar kualitas pendidikan bagi putera-puterinya.

Di Indonesia, model pendidikan sekolahrumah masih berumur sangat muda. Dalam jaminan Konstitusi dan UU Sisdiknas, diperlukan kelapangan dari semua pihak untuk melihat perkembangan sekolahrumah yang sudah terbukti efektif bagi keluarga Indonesia untuk meraih tujuan-tujuan pendidikan yang diharapkannya.

Penulis:
Sumardiono,

praktisi sekolahrumah,
penggiat Jaringan Pendidikan Berbasis Keluarga,
beralamatkan di http://www.sekolahrumah.com,
moderator milis sekolahrumah (http://www.yahoogroups.com/group/sekolahrumah).

Berikut ini sebuah komentar yang menilik latar belakang Daoed Joesoef :

Ah, Daoed Joesoef!

Saya pikir wajar saja kalau Daoed Yoesoef menulis ttg homeschooling seperti tulisan di Kompas itu. Sangat wajar malah. Karena siapa yang tak kenal beliau sebagai mantan menteri pendidikan dan kebudayaan pada 1978-1983?
Beliaulah orang yang paling bertanggung jawab atas hancurnya tata laksana pendidikan di negeri ini.

Konsep kurikulumnya melahirkan generasi Indonesia (ya generasi kita2 inilah) yang cuma menilai sukses dari ukuran jabatan dan harta.

Masih ingat NKK?BKK?
Beliau ini pulalah yang menelurkan konsep NKK/BKK. Sebuah kebijakan yang sangat diktatoris, membelenggu kebebasan, daya nalar dan daya pikir sekaligus menghancurkan kehormatan individu.

Kendati bergelar dua doktor dalam bidang keuangan dan hubungan internasional (1967) serta ilmu ekonomi (1973) dari Universitas Sorborne, Prancis, sangat jelas beliau ini bukan sosok yang kredibel dalam bidang pendidikan. Dan birokrat seperti beliaulah yang ditunjuk Soeharto untuk mengarsiteki pendidikan negri ini.
Sekarang, kita sedang menuai hasil beliau!

Lihatlah sistem pendidikan kita, yang sudah kacau sejak peletakan batu pertama. dan beliaulah salah satu birokrat negri ini yang mesti bertanggungjawab!

Jadi, kalau daoed yoesoef berpikir bahwa HS bukanlah pilihan yang realistik, sudahlah, kita mesti maklum.
Karena, bukankah dia tak mengenal arti kebebasan? ingat NKK-BKK. bukankah dia tak mengenal arti pendidikan yang sesungguhnya? Ingat (masih gagasan) kebijakannya yang ingin memisahkan pelajaran agama dari sekolah2 umum? thank’s God it’s not happen!

gemas rasanya kalau melihat mantan pejabat negri ini masih berani berkoar-koar, dan semua yang dilakukannya tak pernah dia sadari bahwa itu sebuah kesalahan!

seekor burung dalam sangkar, tak mungkin terbang kan?

salam,

Bazaar @ Taman Permata 2 (Bintaro)

April 28th, 2007

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/parenting.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

Akhirnya hari ini tiba - saatnya berjualan ! Anak-anak bangun dengan antusias dan segera mandi. Papanya baru sadar bahwa masih ada daftar harga yang belum dicetak, dan buru-buru mempersiapkannya sebelum bazaar dimulai :P yaitu pukul 08:00

Beberapa minggu yang lalu kami cukup terkesan menerima undangan untuk mengikuti bazaar di kompleks kami yang kecil ini. Memang warga disini cukup kompak, dan inilah salah satu hasilnya. Kami segera mendaftar. Lalu saya katakan kepada Helen, bahwa ini kesempatan kita untuk mulai memperkenalkan dunia “nyata” kepada anak-anak, yaitu bidang perdagangan. Kami sepakat, dan mulai mempersiapkannya.

Yang akan dijual rencananya adalah “biskuit pelangi”. Semacam adonan kue lidah kucing, namun lebih tebal, dengan bentuk yang bermacam-macam dan menarik. Lalu di atasnya diwarnai dengan menggunakan coklat cair berwarna-warni. Rasanya? Walaupun yang membuatnya anak-anak, tapi tidak kalah dengan Famous Amos (I’m highly biased, of course :D tapi betulan enak kok!)

Akhirnya pukul 08:00 pagi pun tiba. Meja kami sudah siap. Ada spanduk di depan meja yang menjelaskan dengan gamblang bahwa hasil penjualan akan 100% disumbangkan, … err, untuk uang saku anak-anak ini :D

Anisah & Sarah sudah duduk manis, siap menyambut pembeli pertama :
siap berjualan

Sekitar pukul 08:20, akhirnya, pembeli pertama !
bazaar tp2 - penglaris

Setelah itu bazaar terus semakin ramai :
bazaar tp2 - makin ramai

Ternyata, panitia mengundang sebuah perusahaan pemilik bouncy castle raksasa. Sorak sorai gembira anak-anak mengundang makin banyak warga kompleks dan sekitarnya. Suasananya menjadi makin padat !
bazaar tp2 - makin ramai

Laris manis… akhirnya, hanya tersisa satu buah lagi biskuit pelangi. Sementara titipan dari nenek juga terjual dengan cukup cepat :

What a day.

Lessons learned :

  • Persiapkan aktivitas pengisi waktu senggang. Waktu bazaar yang cukup lama tidak selalu sibuk melayani pembeli. Seringkali kita cuma duduk menunggu. Jika ada kegiatan (contoh: cetak beberapa halaman permainan matematika Sudoku, kuis “berhadiah”, beberapa lembar halaman dari Wikipedia / Damn Interesting.com, dst), maka mereka akan dapat lebih menikmati kegiatan ini.
  • Berikan anak-anak jatah uang saku untuk acara tersebut. Kalau tidak, maka mereka akan jadi terus meminta kepada kita (karena banyak stand yang menjual berbagai pernak-pernik yang menarik untuk anak kecil) selain juga karena mereka bosan (lihat poin sebelumnya)

Sampai ketemu di bazaar berikutnya !

Allah & Setan

March 2nd, 2007

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/parenting.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

Selama ini kami mencoba mendidik anak-anak kami dengan menganggap mereka sebagai kawan kami. Juga kami mencoba untuk tidak menghalangi kreativitas dan imajinasi mereka. Terutama jika mereka bertanya, maka kami akan berusaha untuk menjawabnya; walaupun kadang pertanyaan mereka itu susah banget untuk dijawab.

Salah satunya adalah pertanyaan Umar kepada istri saya beberapa hari yang lalu. Selama ini kami memberitahu dia bahwa Allah swt adalah suatu entitas yang sangat baik, dan Setan adalah entitas yang sangat jahat.
Kemudian suatu hari dia bertanya; “Ma, kenapa sih Allah kok ngebuat Setan? Kan setan jahat, ma?”

Ketika Helen menceritakan itu, saya bengong. Anak umur 4 tahun bertanya seperti itu?

Ini biasanya adalah argumentasi anti Tuhan yang disampaikan oleh para atheis; jika Tuhan = baik, mengapa dia menciptakan setan (yang jahat/jelek). Berarti tidak mungkin Tuhan = baik.

Hah… Umar sudah bisa bernalar sampai demikian :D tapi supaya yakin, saya pastikan lagi ke istri saya. Jangan-jangan dia bercanda. Tapi ternyata tidak, dia tetap tersenyum (dan bukan tertawa lepas seperti kalau dia berhasil mencandai saya).

Holy wow.

Anyway, setahu saya pada awalnya setan itu tidak jahat. Sama seperti manusia yang pada awalnya baik & bebas dari dosa. Namun, sama seperti manusia, Allah memberikan kebebasan memilih kepada setan. Berbeda dengan malaikat yang tidak mungkin bisa membantah perintahNya sama sekali. Dan dari beberapa literatur, setan pernah mencapai derajat yang cukup tinggi.

Namun, “hanya” karena rasa sombong, maka dalam sekejap semuanya itu hilang. Setan langsung tercampakkan menjadi makhluk yang paling hina.
Sayangnya, alih-alih bertobat, justru setan tetap bertahan dengan gengsinya. Malah minta umurnya diperpanjang sampai hari Kiamat, supaya bisa balas dendam. Halah…

Jadi kalau menurut saya, Allah tidak menciptakan setan sebagai makhluk yang jahat. Setan menjadi jahat karena pilihannya sendiri. Sama seperti manusia, yang bisa memilih, apakah dia akan menjadi manusia yang baik kah, atau yang jahat? The choice is ours.
Selama kita bisa memanfaatkan nikmat akal dengan baik, dan menghindari dari nafsu seperti sombong, gengsi, dll; maka insyaAllah kita akan selamat dunia dan akhirat.

Argumentasinya sih masih bisa dilanjutkan terus, seperti definisi jahat, hikmah dari kejahatan setan, dst. Tapi saya stop dulu karena saya ingin memeluk Umar, dan berdoa mudah-mudahan dia terus demikian; selalu bertanya dengan kritis, tidak taqlid buta begitu saja, Amin.

Seminar Homeschooling

January 14th, 2007

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/parenting.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

Ada 3 seminar homeschooling dalam waktu dekat ini. Sayang yang di bulan Januari tidak bisa saya hadiri karena sedang di UK, tapi mudah-mudahan yang di bulan Februari bisa. Anyway, semoga informasi ini dapat bermanfaat.

Yth Para Orang tua dan Pemerhati Pendidikan

Insha Allah, dengan ini kami ingin mengundang para orang tua dan pemerhati pendidikan
untuk datang dan berdiskusi untuk dapat memberikan komentar mengenai kontribusi sistem yang telah kami kembangkan selama tiga tahun terakhir.

Thema : Pengembangan kurikulum KTSP dan konsep sekolah Fun Learning
waktu : jam 10:00-selesai
Tanggal : 21 Januari 2007
tempat : Madrasah International TechoNatura, Jalan Margonda Raya no 489
Pondokcina, Depok
phone : 776 4268

mengingat keterbatasan tempat yang ada, mohon bagi yang berminat hadir untuk dapat memberikan konfirmasi kedatangan kepada kami.

Demikianlah undangan ini kami sampaikan.
wassalamu alaikum wr wb.

salam hormat kami

A Riza Wahono BEng, MSc PhD
Executive Director

CREATE Foundation
Centre for Research on Education, Arts, Technology, & Entrepreneurship.


Anak Anda Mau HOMESCHOOLING?

Pastikan kalau Anda telah mengerti & siap dengan konsep homeschooling dan konsekuensinya. Untuk itu Komunitas Homeschooling BERKEMAS mengadakan seminar & Pelatihan yang bertema:

PARADIGMA MENJADI ORANGTUA BARU

yang akan diselenggarakan pada:
Hari : Minggu, 21 Januari 2007
Waktu : pk. 09.00 - 12.00 WIB
Tempat : Villa Pejaten Mas
Jl. Pejaten Raya No. A29
Pasar Minggu, Jaksel
Pembicara : Neno Warisman

Investasi : Rp. 50.000,- per orang (snack, makalah & souvenir)

Pendaftaran melalui :
Sekretariat Komunitas Homeschooling BERKEMAS
Jl. AUP Gg. H. Mesir II Rt. 002/10 No. 28, Pasar Minggu - Jkt 12520
Telp. 78839571

Contact Person : Naning (7801542)

Pendaftaran dapat dilakukan melalui rek. BCA no. 5540301648 an: Yayah Komariah (Bukti transfer difax ke 78845632)
Pendaftaran paling lambat hari Kamis, 18 Januari 2007

Tempat Terbatas! 50 orang


FLASH event organizer mempersembahkan:
Seminar pendidikan:

“Homeschooling: Era Baru dalam Pendidikan Anak”

Menghadirkan pembicara:

1. Dr. Seto Mulyadi, Psi., M.Psi (Pakar pendidikan anak, Ketua ASAH PENA Indonesia)
2. Ibu Yayah Komariah (Pendiri Komunitas Homeschooling BERKEMAS)

Waktu:
Sabtu, 17 Februari 2007
08.00-12.30 wib

Tempat:
Hotel Cikini Raya
Jl. Cikini Raya no 79 Jakarta Pusat

Investasi:
Rp. 100.000 (makalah, seminar kit, doorprize, coffe break)
Rp. 175.000 (untuk pasangan suami istri)

Alamat pendaftaran:
FLASH event organizer
Jl. Masjid Condet Al Khoiroot no. 24 A Batu Ampar
Telp: 021-70035086 / 021-80887217
Fax: 021-80887217

Contact person:
Mecca ( 08159531551)
Cicih ( 021-70035086)
Dewi ( 081310063809)

Uang Pendaftaran dapat ditransfer melalui:

BCA cabang Dewi Sartika
No.Rek: 273-147-0369
a.n Sukaesih

atau ke

Bank Syariah Mandiri
No.Rek: 0010102171
a.n Meccarania D.M

Buruan Nikahin Gue

January 8th, 2007

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/parenting.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

Blogwalking malam ini menemukan sebuah posting yang membahas soal pernikahan. Kutipannya langsung menangkap mata saya :

“Siapa bilang gampang? Makanya kalo belom siap, jangan kawin dulu, donk. Kalo perlu ngga’ usah! Ngga’ tau apa kalo akhirnya nanti cuma bakal nyusahin anaknya? See… this is the very reason, why I don’t intend to get married at the first place.“

Kelihatannya perspektif ini makin banyak dianut oleh banyak orang pada saat ini. Belum siap (mental), jadi jangan nikah dulu. Tunggu siap. Mirip seperti haji ya, walaupun finansial sudah mampu, tapi belum siap (istilah teknisnya: belum dipanggil), maka belum berangkat haji juga.

Tapi ada satu hal penting yang mungkin kita lupakan - manusia mungkin adalah makhluk yang paling mampu untuk beradaptasi.

Dari kutub utara sampai sahara, dari puncak gunung sampai di lautan, di bumi sampai luar angkasa; hidup mewah sampai anak-anak palestina yang hidup di sela-sela desingan peluru — ketika ada tekad, maka biasanya manusia akan menemukan jalannya.

Pernikahan saya kira juga demikian. Kalau ditunggu-tunggu, bisa terlambat sekali. Lebih baik nikah saja, setelah sama-sama sepakat untuk :

  1. Mau berusaha memahami satu dan lainnya. Pria dan wanita memang berbeda. Dengan adanya usaha dari kedua belah pihak untuk saling memahami, maka bisa terjalin kehangatan dan bukannya keributan.
  2. Mau untuk berubah menjadi lebih baik. Setelah menikah, maka biasanya barulah akan kelihatan berbagai kekurangan dari pasangannya. Tapi ini tidak masalah ketika sudah ada janji untuk berubah (adaptasi) untuk kebaikan, maka baik suami maupun istri akan sama-sama menjadi lebih baik.
    Tentunya definisi “kebaikan” ini juga perlu disepakati dulu sebelumnya. Biasanya adalah agama, atau dengan tambahan lainnya.
  3. Komitmen menjaga agar komunikasi selalu lancar. Ini akan mencegah asumsi/prasangka buruk. Jadi jika ada sesuatu pada pasangan Anda yang tidak menyenangkan, jangan didiamkan. Mendiamkan masalah tidak akan membuat masalah hilang, justru akan memperparahnya.
    Tanyakan dengan cara yang baik. Siapa tahu ternyata sebetulnya tidak ada apa-apa, cuma salah paham saja. Wajar terjadi, apalagi pada dua makhluk yang berbeda total (pria dan wanita)

Saya pikir, modal menikah sebetulnya ini saja kok. Simpel ya?

Termasuk masalah parenting / merawat anak. Kalau mau menunggu “siap”, tanpa didefinisikan dengan jelas, maka bisa jadi jomblo terus. Lha sekolah merawat anak juga enggak ada tho.
Tapi dengan modal poin #2, maka kita jadi bisa menghadapi hal-hal yang baru, termasuk mengasuh anak-anak kita.

Sekalian saya ingin meluruskan beberapa propaganda pro-nikah — nikah itu bukan melulu senang-senang :) “they live happily ever after” - BS, he he.

Pernikahan itu adalah perjuangan, yang kalau kita jalani dengan sabar, maka hasilnya akan kita nikmati belakangan.
Menghabiskan hidup bersama soulmate, dengan anak-anak yang menyenangkan hati orang tuanya. Ini cuma bisa dinikmati setelah melalui cobaan mental & fisik yang berat. No pain no gain, kata oom Smith. Tapi proses ini yang akan membuat kita dan pasangan kita menjadi orang-orang yang lebih baik. Seperti besi yang awalnya dibakar dan dipukuli berkali-kali, akhirnya menjadi sebuah pedang yang anggun.

Kalau kita cuma ingin bersenang-senang sekarang, maka kesusahannya akan datang belakangan. Jadi saya kira, lebih baik susahnya sekarang; ketika pikiran masih tajam dan badan masih tegap. Bersama dengan pasangan yang sehati, maka susah pun jadi tidak terlalu terasakan.

Saya tunggu undangannya ;)

Cacar air

November 27th, 2006

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/parenting.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

Lagi musim banget ya… anak saya sekarang sudah semuanya (4 orang) kena :)

Variasinya juga sudah banyak sekarang ini. Yang paling kecil, Kaitlyn, tidak muncul banyak bentolan merah. Tapi, mulutnya penuh dengan sariawan….
Kasihan sekali, sampai tidak bisa makan selama 3 hari. Kadang kalau melihat orang makan, dia tergiur, pegang sendok, menyuapkan nasinya… tapi kemudian tidak berani memasukkannya ke mulut. Akhirnya dia malah membantu menyuapi kakak-kakaknya :D padahal dia sendiri sedang kelaparan :( tapi syukurlah berarti anak ini baik hatinya walaupun dia sendiri sedang kesusahan.
Alhamdulillah masih bisa minum bubur & vitamin, sehingga kondisi badannya tidak terlalu parah sekali.

Yang nomor 2, Sarah, sekali waktu terpergok oleh kita sedang menjilati lukanya, halah seperti kucing he he :D kita kaget dan terpekik sehingga dia juga jadi kaget, “lhoo, kok lukanya dijilat ?”.
“Habisan, enak jadi enggak begitu sakit”

Dan terjadilah… besoknya, kerongkongannya penuh dengan cacar, sehingga minum pun dia kesakitan. Aduh anak ini… mau ketawa, ya enggak bisa lah, wong anaknya lagi kesakitan luar biasa begitu.

Yang nomor 3, Umar, berbeda lagi. Sekujur badannya penuh cacar, tapi dia tetap saja gembira dan heboh. Kita geleng-geleng kepala sambil senyum melihatnya. Hanya perlu hati-hati saja kalau sedang memeluknya, jangan terlalu keras, karena bisa memecahkan cacarnya dan membuat si jagoan ini jadi meringis.

Si sulung, Anisah, tidak kena cacar selama berminggu-minggu adik-adiknya sakit. Tercetus dari mulutnya, “Wah Sarah enak yaa, kena cacar jadi bisa libur sekolah lama. Anisah juga pingin dong kena cacar”.
Dan… kemarin ini tiba-tiba muncul banyak cacar di badannya, dan dia juga menderita dari demam dan sakit. Yah, kesempatan untuk menjelaskan kepada si kakak, tidak baik untuk hasad :) dan sebaiknya kita selalu bisa mensyukuri nikmat sehat yang sedang ada pada kita.

Saya sendiri ? Kebagian demam juga, dan ada beberapa cacar yang muncul. Tapi berbeda dengan anak-anak yang bisa libur, saat ini sedang tidak bisa karena ada banyak komitmen yang harus dipenuhi :) Yah dinikmati saja lah, he he.

Berteriak vs Pelukan hangat

November 13th, 2006

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/parenting.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

From: Lita - Sat, Nov 11, 2006 at 1:04 AM
Reply-To: asahpenaindonesia@yahoogroups.com

Akmal, anakku sekarang berusia 4 tahun 8 bulan, akhir-akhir ini sering ngambek. Ngambeknya bukan ngambek seperti biasa. Sekarang ngambeknya di tambah dengan perilaku agresi (baik dengan menggunakan fisiknya ataupun kata-kata).
Aku sebagai ibunya sangat sedih dan bingung sekali. Sedih karena sebelumnya dia adalah anak yang sangat manis, tidak terbayanglah dia akan seperti itu. Bingung karena rasanya sudah berusaha tapi belum ada hasilnya. Setiap saat yang ada adalah aku terpancing untuk membalas perilaku agresinya. Yang paling sering adalah dia berteriak, aku pun tidak mau kalah, teriak juga. Hasilnya: teriakan dan perilaku agresi anakku semakin memuncak.

Suatu hari suamiku pulang dan bercerita tentang bagaimana seorang ibu,yang memiliki 13 anak, membangun ‘touch’ dengan anak. Tipsnya sederhana: Mencium anak.

Suamiku teringat kalo sudah lama sekali aku kurang membangun kehangatan dengan anak. Akupun menjadi tersadarkan kalo kehangatan antara aku dan akmal, putraku, menurun drastis sejak ia memiliki adik. Menyadari hal itu, ingin rasanya segera membangun kehangatan itu, tapi ternyata tidak mudah. Seribu alasan bisa kukatakan, kenapa menjadi tidak mudah.

Namun akhirnya karena situasi semakin sulit dan semakin menyedihkan, aku berusaha sekuat tenaga untuk mengatasi faktor-faktor penghambat. Setiap kali dia menunjukkan perilaku yang tidak menyenangkan, kupeluk ia dan kucium ia……ajaib! ia terdiam.

Kurefleksikan apa yang ia rasakan, kuajak bicara dari hati ke hati. Alhamdulillah, Berhasil! Tak ada lagi teriakan berbalas teriakan, yang ada sekarang teriakan berbalas pelukan dan ciuman sayang. Hasilnya: perilaku yang manis.

Terima kasih & salam,
Lita

Penyebab Autisme ?

October 17th, 2006

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/parenting.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83
Jumlah penderita Autisme dalam dekade terakhir

Autisme, sebuah penyakit yang satu abad yang lalu hampir tidak terdengar sama sekali, kini sudah hampir menjadi sesuatu yang normal. Perkembangan autisme terutama makin melejit di beberapa dekade terakhir, seperti yang dapat dilihat pada grafik di sebelah kanan.

Ketika sudah terlanjur, Autisme bisa sangat sulit untuk dikendalikan, apalagi untuk disembuhkan. Jika kita mengetahui berbagai potensi penyebabnya, maka mudah-mudahan kita bisa mengatur agar anak kita terhindar dari itu semua. “Mencegah lebih baik daripada mengobati”, kata pepatah. Dan untuk kasus Autisme, dimana di Amerika saja perawatannya memakan biaya US$ 35 milyar per tahun, pepatah ini sangat telak mengenai sasaran.

Penyebab pasti autisme belum diketahui sampai saat ini. Kemungkinan besar, ada banyak penyebab autisme, bukan hanya satu.
Dahulu sempat diduga bahwa autisme disebabkan karena cacat genetik. Namun cacat genetika tidak mungkin terjadi dalam skala demikian besar dan dalam waktu demikian singkat. Karena itu kemudian para peneliti sepakat bahwa ada banyak kemungkinan penyebab autisme lainnya.

Berbagai hal yang dicurigai berpotensi untuk menyebabkan autisme :

  1. Vaksin yang mengandung Thimerosal : Thimerosal adalah zat pengawet yang digunakan di berbagai vaksin. Karena banyaknya kritikan, kini sudah banyak vaksin yang tidak lagi menggunakan Thimerosal di negara maju. Namun, entah bagaimana halnya di negara berkembang …
  2. Televisi : Semakin maju suatu negara, biasanya interaksi antara anak - orang tua semakin berkurang karena berbagai hal. Sebagai kompensasinya, seringkali TV digunakan sebagai penghibur anak. Ternyata ada kemungkinan bahwa TV bisa menjadi penyebab autisme pada anak, terutama yang menjadi jarang bersosialisasi karenanya.

    Dampak TV tidak dapat dipungkiri memang sangat dahsyat, tidak hanya kepada perorangan, namun bahkan kepada masyarakat dan/atau negara. Contoh paling nyata adalah kasus pada negara terpencil Bhutan - begitu mereka mengizinkan TV di negara mereka, jumlah dan jenis kejahatan meningkat dengan drastis.

    Bisa kita bayangkan sendiri apa dampaknya kepada anak-anak kita yang masih polos. Hiperaktif ? ADHD ? Autisme ? Sebuah penelitian akhirnya kini telah mengakui kemungkinan tersebut.

  3. Genetik : Ini adalah dugaan awal dari penyebab autisme; autisme telah lama diketahui bisa diturunkan dari orang tua kepada anak-anaknya.

    Namun tidak itu saja, juga ada kemungkinan variasi-variasi lainnya. Salah satu contohnya adalah bagaimana anak-anak yang lahir dari ayah yang berusia lanjut memiliki kans lebih besar untuk menderita autisme. (walaupun sang ayah normal / bukan autis)

  4. Makanan : Pada tahun 1970-an, Dr. Feingold dan kolega-koleganya menyaksikan peningkatan kasus ADHD dalam skala yang sangat besar. Sebagai seseorang yang pernah hidup di era 20 / 30-an, dia masih ingat bagaimana ADHD nyaris tidak ada sama sekali di zaman tersebut.

    Dr. Feingold kebetulan telah mulai mengobati beberapa kasus kelainan mental sejak tahun 1940 dengan memberlakukan diet khusus kepada pasiennya, dengan hasil yang jelas dan cenderung dalam waktu yang singkat.

    Terapi diet tersebut kemudian dikenal dengan nama The Feingold Program.

    Pada intinya, berbagai zat kimia yang ada di makanan modern (pengawet, pewarna, dll) dicurigai menjadi penyebab dari autisme pada beberapa kasus. Ketika zat-zat tersebut dihilangkan dari makanan para penderita autisme, banyak yang kemudian mengalami peningkatan situasi secara drastis.

    Dr. Feingold membayar penemuannya ini dengan cukup mahal. Sekitar tahun 1970-an, beliau dikhianati oleh The Nutrition Foundation, dimana Coca cola, Kraft foods, dll adalah anggotanya. Beliau tiba-tiba diasingkan oleh AMA, dan ditolak untuk menjadi pembicara dimana-mana.
    Syukurlah kemudian berbagai buku beliau bisa terbit, dan hari ini kita jadi bisa tahu berbagai temuan-temuannya seputar bahaya makanan modern.

  5. Radiasi pada janin bayi : Sebuah riset dalam skala besar di Swedia menunjukkan bahwa bayi yang terkena gelombang Ultrasonic berlebihan akan cenderung menjadi kidal.
    Dengan makin banyaknya radiasi di sekitar kita, ada kemungkinan radiasi juga berperan menyebabkan autisme. Tapi bagaimana menghindarinya, saya juga kurang tahu. Yang sudah jelas mudah untuk dihindari adalah USG - hindari jika tidak perlu.
  6. Folic Acid : Zat ini biasa diberikan kepada wanita hamil untuk mencegah cacat fisik pada janin. Dan hasilnya memang cukup nyata, tingkat cacat pada janin turun sampai sebesar 30%. Namun di lain pihak, tingkat autisme jadi meningkat.

    Pada saat ini penelitian masih terus berlanjut mengenai ini. Sementara ini, yang mungkin bisa dilakukan oleh para ibu hamil adalah tetap mengkonsumsi folic acid - namun tidak dalam dosis yang sangat besar (normalnya wanita hamil diberikan dosis folic acid 4x lipat dari dosis normal).

    Atau yang lebih baik - perbanyak makan buah-buahan yang kaya dengan folic acid, karena alam bisa mencegah tanpa menyebabkan efek samping :

    Nature is more precise; that’s why all man-made drugs have side effects

  7. Sekolah lebih awal : Agak mengejutkan, namun ada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa menyekolahkan anak lebih awal (pre school) dapat memicu reaksi autisme.

    Diperkirakan, bayi yang memiliki bakat autisme sebetulnya bisa sembuh / membaik dengan berada dalam lingkupan orang tuanya. Namun, karena justru dipindahkan ke lingkungan asing yang berbeda (sekolah playgroup / preschool), maka beberapa anak jadi mengalami shock, dan bakat autismenya menjadi muncul dengan sangat jelas.

    Untuk menghindari ini, para orang tua perlu memiliki kemampuan untuk mendeteksi bakat autisme pada anaknya secara dini. Jika ternyata ada terdeteksi, maka mungkin masa preschool-nya perlu dibimbing secara khusus oleh orang tua sendiri. Hal ini agar ketika masuk masa kanak-kanak maka gejala autismenya sudah hampir lenyap; dan sang anak jadi bisa menikmati masa kecilnya di sekolah dengan bahagia.

Dan mungkin saja masih ada banyak lagi berbagai potensi penyebab autisme yang akan ditemukan di masa depan, sejalan dengan terus berkembangnya pengetahuan di bidang ini.

Secara ringkas; gaya hidup modern memang sangat besar kontribusinya terhadap peningkatan kasus autisme. Salah satu bukti yang paling nyata adalah nyaris tidak adanya kasus autisme di masyarakat Amish.

NOTE : Artikel ini hanya bertujuan untuk mengenalkan Anda kepada berbagai potensi penyebab autisme.

Berbagai artikel yang membahas topik ini cenderung sangat sulit untuk dipahami karena menggunakan bahasa medis / akademis. Karena itu, artikel ini bertujuan untuk menjelaskannya dalam bahasa sehari-hari yang mudah dimengerti.
Sehingga selanjutnya diharapkan akan memudahkan para (calon) orang tua untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang soal ini.

Apakah Autisme itu ?

Autisme adalah : neurodevelopmental disorder that manifests itself in markedly abnormal social interaction, communication ability, patterns of interests, and patterns of behavior.

“Cacat pada perkembangan syaraf & psikis manusia, baik sejak janin dan seterusnya; yang menyebabkan kelemahan/perbedaan dalam berinteraksi sosial, kemampuan berkomunikasi, pola minat, dan tingkah laku”.

Autisme cukup luas dan mencakup cukup banyak hal. Ciri-ciri autisme ada banyak, dan kebanyakan penderita autisme hanya menderita sebagiannya saja.

Penderita autisme cukup banyak yang ternyata malah menjadi sukses dalam hidupnya. Penderita autis banyak yang menjadi pakar pada bidang sains, matematika, komputer, dan lain-lainnya.

Orang tua dapat sangat membantu mengarahkan anak autis untuk mengeksploitasi kelebihan-kelebihannya (seperti: kemampuan untuk fokus & konsentrasi yang luar biasa), dan melatih mereka untuk memperbaiki berbagai kelemahan-kelemahannya.

Nampaknya ini dulu yang bisa saya tuliskan untuk topik ini. Komentar/koreksi akan diterima dengan senang hati. Semoga dapat bermanfaat.